Apakah ini adalah kita usai hilang dari pandang?
Kita tenggelam dalam sungai tanpa arus dengan teriakan yang tidak pernah terdengar oleh dunia. Yang tersisa mungkin hanyalah gelembung nafas yang mulai mengecil dan jadi tanda kalau nyawanya tinggal tersangkut di tenggorokan. Disampingnya ialah pikiran-pikiran yang penuh hingga kugambarkan sebagai kerongkongan penuh air dan tiada lagi udara mengisi rongganya.
Lalu adakah suatu insan yang nantinya menangisi hilangnya kita? Atau jangan-jangan kibasan tangan kita yang telah mengaduk permukaan tenang akhirnya pura-pura tidak dilihat oleh orang-orang? Lalu akhirnya kita mengendap di sungai yang nyatanya tiada dasar?
Kita akhirnya hanya angin dingin yang tiupannya tenang lalu isinya adalah kabar duka yang tiada pernah terbaca.
Kita menjelma menjadi embun pagi dari hari-hari dingin dan kesedihan tak terbilang. Menetes menuju bumi dari daun-daun yang gugur terabaikan. Kita pulang dengan tenang, senyap, tiada suara meskipun itu kibasan angin dari hinggapan hewan-hewan terbang kedinginan, hingga jatuh sendiri dipeluk gravitasi. Sesekali orang-orang mencari, menanyakan kabar, memotret, juga bermain-main, namun tiada satupun yang benar-benar menghampiri.
Kita
Apakah ada?
Yang menemukan?

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus