#SatuCatatan Untuk "orang terhormat" yang tidak menghormati profesi orang lain


“ Nek garap soal ki rasah dikon. Ojo koyo kuli, mentale duwe mental kuli, dikon sikik lagi kerja! Bayar e pun ra sepiro o”
“ Kalau ngerjain soal jangan cuma saat disuruh, Jangan kayak kuli, punya mental kuli, disuruh dulu baru kerja! Gajinya juga tidak seberapa.”
***
         Selamat siang, Nyonya. Nama saya Melia. Dalam blog ini saya sengaja memperkenalkan diri di tengah tengah tulisan begini, sengaja agar semua tau siapa saya. Harusnya saya tidak perlu menulis hal seperti ini. Tapi hari ini, hati saya mengatakan kecewa, sepenuhnya. Saat saya melewati salah satu kelas, terdengar celetukan, kurang lebih seperti tulisan yang saya garisbawahi di atas.
      Jadi begini, masalah tentang mental kuli yang Nyonya katakan ini, tidakkah Nyonya justru terdengar "merendahkan" profesi super keren ini? Pernah kutanyakan pada Nyonya, apa gerangan alasan Nyonya memilih profesi hebat binti mulia yang sedang dijalankan ini?
        "Agar kami bisa membagikan ilmu yang kami punya pada kalian. Juga mengajari tentang adab dan sopan santun!" Katamu teriak keras dari pojok ruangan. Namun kudengar celetukan sambil ketawa keras saat di kantin sekolah.
        " Untung aku kerja kantoran, ra kepanasan, duite mili."
    Haha. Halah. Alasan yang bagus, jawaban tertunda yang patut untuk diacungi nilai jempol karena kejujuranmu kuketahui saat aku telah mendengar jawaban paling awal yang telah kamu lontarkan. Jadilah diriku, si siswa yang sering kau sebut sebagai tukang protes ini, meragukan yang katamu : niat baik nan tulusmu sebagai tenaga didik. Dan tiba-tiba kamu mengatakan perkataan jahat itu di depan kelas. Ya, aku bertepuk tangan keras. 
        Kukatakan lagi. Tidak ada yang lebih keren dari seorang ayah dan ibuyang tiap hari bekerja (yang sepertinya kamu hobi memanggilnya kuli), dengan niat hati yang tulus, mengorbankan seluruh tenaganya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan oleh sebagian orang, mendapatkan bayaran halal untuk keluarga, lalu mereka tak pernah meninggalkan ibadah lima waktunya, bahkan mereka meluangkan waktu untuk shalat dhuha sebelum mereka bekerja. Sungguh tidak ada yang lebih keren daripada mereka yang saat siang setelah shalat, mereka beristirahat, makan siang, lalu membicarakan kemajuan-kemajuan di lingkungan mereka, yang tidak lain juga karena usaha mereka juga. Lalu kamu? Kulihat dirimu sedang pamer mobil baru ya, berkilat kilat di lapangan sekolah? Iya selamat si Paling Kaya dengan rasa bangga yang sungguh semu, sayang sekali kamu adalah orang paling tidak keren yang pernah kutemui, setidaknya hingga aku nanti lupa, siapa sih kamu ini?

-Iya besok-besok kamu boleh mengubah panggilanku dari si Tukang Protes, jadi anak kuli. Karena sejatinya semua profesi adalah kuli, tinggal bagaimana caramu bisa memandang indah apa yang orang lain kerjakan. Terima kasih.



Salam, anak dari Ayah dan Ibu paling keren di dunia.


Ditulis: 22 Januari 2020.

Komentar

Postingan Populer